Gamer di Indonesia Dapat Stigma Negatif Lain Cerita di Polandia


NGGAK percaya waktu cowokku yang orang Polandia bilang, "Kamu suka main game kan? Apply kerja di perusahaan game aja sebagai awalan." Yes, cowokku gamer kelas berat, nggak kayak aku yang main gratisan. Jadi, dia support aku di dunia game. Di Polandia, industri game lumayan bagus. Main game bukan hal yang negatif atau memalukan di sini.

Bahkan supermarket biasa jg jualan peralatan game sampe jutaan. Di beberapa tempat malah menyediakan tempat menjajal game gratis. Oke balik lagi. Jadi kuputuskan aku apply di beberapa perusahaan, termasuk perusahaan game. Posisi yang ditawarkan perusahaan game bervariasi, ada programmer C++, admin IT, customer service game, teknisi quality assurance, translator bahasa Indonesia.

Wait, bahasa Indonesia! Ternyata perusahaan game di luar negeri juga investasi di bahasa Indonesia karena gamer di Indonesia sangat banyak. Rata2 game terkenal ternyata translatornya diambil dari luar negeri, tapi yang bekerja tetap native. Perusahaan game tidak cuma berada di 1 negara, tapi mereka memiliki beberapa cabang di banyak negara yang terkadang tiap cabang memiliki beda tugas, tersebar di Amerika, Eropa, Asia.

Contohnya perusahaanku punya headquarter di Inggris dan punya cabang di beberapa negara termasuk Amerika dan Polandia. Setelah aku terjun di industri game, aku paham sektor ini adalah sektor yang tidak pernah mati. Tapi bukan berarti bekerja di perusahaan game adalah akhir dari karier.

Dengan bekerja di posisi programmer, admin IT, atau quality assurance, ke depannya kita akan mudah dalam mencari pekerjaan di tempat lain karena posisi tersebut tersedia di perusahaan manapun. Plusnya lagi kerja di perusahaan game, permintaan di dunia game sangat banyak, tidak jarang kami harus lembur bahkan saat weekend. Ya senang aja, dapet duit tambahan yang banyak. Jadi, anda main game, kami bahagia.

Apa komentar ayahku tentang ini semua? "Kamu menciptakan virus yang merusak anak bangsa." Tapi apa komentar orang Polandia tentang ini? "Wah, aku juga pengen kerja seperti itu, kelihatannya bahagia!" Ya, ketika game di Indonesia masih punya stigma negatif, di Polandia dianggap sebagai sesuatu yang keren. Tidak jarang gamer yang sudah bekerja punya peralatan game berharga puluhan juta seperti cowokku itu.

Tapi anak-anak  Polandia dididik untuk tidak main game melebihi batas, sehingga tidak berdampak negatif pada mereka dan menjadi hobi yang nenyenangkan. Sedangkan di Indonesia, aku sering melihat teman gameku tidak pulang ke rumah, bolos sekolah, ambil duit ortu, demi main game. Sampe ada yang mati gara-gara maen game nggak berhenti.

Tapi ada juga gamer pintar. Main game terus tapi nilainya bagus. Contohnya aku. Dari game kita belajar ngecheat/ngebot, di mana kita harus mengerti komputer dan programming. Kebayang kan anak-anak gamer otaknya pasti pintar semua? Karena sejak kecil sudah jadi programmer meskipun berawal dari ngecheat atau ngebot.

Contohnya adikku ngebot RO Online pake bahasa pemrograman Perl sejak kelas 3 SD. Jadi dia itu programmer Perl sejak SD. Kalau kamu jadi programmer sejak kapan?

Sumber : Pratiwi W Wahyuni (Facebook, 13 November 2018).
Keterangan : Pratiwi adalah warga Indonesia (Surabaya) yang mendapatkan beasiswa komputer ke Polandia, dan kini berharap dapat menetap di negara itu).
Previous
Next Post »