Survei Forrester : Satu Orang Punya Minimal 33 Aplikasi

DINILAI dari berbagai sudut secara objektif, grup band dunia Queen adalah salah satu band rock terbesar sepanjang masa. Album keempat mereka "A Night at the Opera," dirilis pada tahun 1975, menghasilkan sebuah lagu ikonik berjudul "Bohemian Rhapsody," yang melambungkan mereka menjadi bintang internasional.

Seperti semua album musik saat itu, album tersebut juga dirilis dalam format nondigital - vinyl, kaset dan CD. Namun dewasa ini, format digital dan mobile-first telah mendominasi rilis dan konsumsi pendengaran musik.

Konsumen kini umumnya menikmati musik melalui smartphone. Musisi kenamaan kemudian menanggapi hal tersebut dengan meluncurkan musik terbaru mereka melalui layanan streaming dan aplikasi mobile, bahkan sebelum album CD mereka tersedia di gerai musik.

Penggunaan aplikasi mobile sudah menjadi kebiasaan saat ini. Rata-rata orang di Indonesia setidaknya memiliki 33 aplikasi mobile dan menggunakan setidaknya tujuh aplikasi dan menghabiskan waktu sekitar dua jam untuk menggunakan aplikasi tersebut setiap harinya12.

Pada jam 9 pagi, banyak dari kita akan sudah menggunakan aplikasi untuk mengukur kalori yang terbuang saat melakukan lari pagi; memeriksa jadwal pribadi sehari-hari; memesan taksi online untuk bekerja; mencari Starbucks terdekat; dan mengomentari gaya Outfit of the Day (OOTD) teman kita disosial media – sembari mendengarkan musik di Spotify.

Perusahaan analisis Forrester menyebut hal ini sebagai "pergeseran pemikiran mobile". Dengan format digital saat ini, norma dan merek diharapkan untuk terlibat dan memberikan akses mobile, dan yang menimbulkan pertanyaan: "Bagaimana peritel online dapat dengan tepat menyasar konsumen yang mengharapkan semua informasi secara on-demand, sesuai konteks, pada saat yang paling dibutuhkan oleh mereka?"

"App-y" Sukses di Asia Tenggara? Tidak Semudah Itu.
Situs web yang dioptimalkan untuk penggunaan secara mobile dan aplikasi bermerek telah menjadi elemen dasar kesuksesan bagi para peritel. Konsumen sekarang menghabiskan lebih banyak uang dan membeli lebih banyak ticket items pada platform-platform seperti ini.

Di paruh kedua 2016, nilai rata-rata Pesanan (AOV) dari aplikasi mobile telah meningkat menjadi US$ 127, melebihi AOV desktop sebesar US$ 1003. Para konsumen di Asia menjadi kontributor terbesar di dunia dengan lebih dari 40 persen pada pembelian melalui aplikasi4.

Mobile browser tidak jauh tertinggal dengan AOV sebesar US$955. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa mobile telah menjadi saluran digital utama untuk interaksi konsumen dan akuisisi penjualan.

1. Google. Mobile Apps in APAC: 2016 Report. Desember 2016.
2. Google. How to Stay Top-of-Mind in Asia’s Crowded Apps Marketplace.
3. Criteo. State of Mobile Commerce Report for Southeast Asia. 1H 2016.
4. AppsFlyer. State of In-App Spending Report. Juli 2016.
5. Criteo. State of Mobile Commerce Report for Southeast Asia. 1H 2016.

Meskipun demikian, apabila saat ini anda hanya berinvestasi di situs yang dioptimalkan untuk penggunaan mobile dan aplikasi bermerek, anda mungkin telah mengambil langkah yang salah. Anda masih perlu menjelajah aset mobile anda lebih jauh untuk terlibat dengan konsumen dan menghasilkan penjualan. Berikut ini adalah alasannya.

Konsumen hanya menghabiskan sebagian kecil dari waktu mereka untuk mengunjungi situs atau aplikasi mobile. Mereka biasanya menggunakan platform Anda tanpa tujuan yang pasti. Waktu mereka hanya terbuang untuk mengetik kata kunci, menyaring sesuai dengan kebutuhan mereka dan memilih kategori di suatu katalog yang kompleks. Apabila mereka gagal menentukan apa yang mereka butuhkan, mereka akan keluar dari platform tersebut dan melanjutkan aktivitas keseharian mereka di dunia nyata.

Itulah sebabnya mengapa peritel online harus memberi kemudahan bagi pengguna platform mereka dalam pencarian. Terlebih penting lagi, peritel online harus menemukan cara untuk menyenangkan konsumen dengan produk yang relevan - atau dikenal sebagai pencarian eCommerce.

Membuat Momen Mobile dengan Memahami Intensi dan Merekayasa Faktor Keberuntungan.
Sejak lama, keputusan untuk membeli ditentukan tidak hanya melalui intensi, tetapi juga oleh faktor keberuntungan. Menyadari bahwa konsumen akan tertarik mengunjungi toko yang iklan atau produknya menarik perhatian mereka di pusat perbelanjaan, peritel tradisional yang menggunakan pajangan dan baliho untuk menarik perhatian orang yang lalu lalang dan membuat peluang penemuan produk yang mereka minati.

Ketika perhatian para pembeli semakin bergeser dari jendela offline ke online, para pemain eCommerce dapat melakukan pendekatan yang serupa, dengan menggunakan teknologi terbaru. Bayangkan apabila para konsumen diberi kesempatan untuk menemukan produk dan membelinya di mana pun dan kapan pun hanya melalui telepon genggam?

Ketika para konsumen mengunjungi suatu situs web mobile atau aplikasi bermerek, penjelajahan dan pola pencarian mereka sudah terbentuk yang menunjukkan kebutuhan dan preferensi pribadi mereka. Dengan menggunakan teknologi ‘mesin belajar’ yang secara otomatis mengumpulkan dan menganalisis informasi ini, Peritel akan mendapatkan pemahamanan yang kuat mengenai apa yang paling dibutuhkan oleh setiap konsumen.

Setelah konsumen meninggalkan platform tersebut, maka peritel dapat merekayasa faktor keberuntungan dengan cara otomatis mengirim tampilan yang konsumen inginkan di situs dan aplikasi tempat individu tersebut menghabiskan sebagian besar waktunya.

Di antara artikel berita, memilih lagu dalam daftar lagu baru, bermain Pok√©mon Go dan Candy Crush, atau chatting dengan teman, para konsumen dapat “berjalan” melintasi jendela toko dan memiliki kesempatan menemukan produk yang telah dipilih secara khusus untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka – semuanya dilakukan melalui telepon genggam. Ini adalah perkembangan kuat yang membuat setiap situs atau aplikasi pihak ketiga menjadi toko yang memiliki potensi dan dapat menciptakan kesempatan untuk terlibat menjual produk yang diinginkan oleh konsumen.

Kemampuan untuk melakukan hal ini bukan lagi sekadar khayalan, namun telah menjadi kenyataan. Merek terkemuka seperti ZALORA, MatahariMall, dan Tiki telah mengadopsi teknologi canggih lintas-platform serta teknologi aplikasi yang menargetkan kembali para konsumen di seluruh wilayah dan menghasilkan peningkatan besar dalam penjualan eCommerce.

Pilih Lagu Anda: “Another One Bites the Dust” atau “We Are the Champions?”
Asia Tenggara akan terus menjadi pendorong utama pertumbuhan mobile commerce global. Kompetisi juga akan semakin intens karena banyak pemain bersaing untuk mendapatkan andil pada konsumen.

Ketika belanja tahunan para konsumen di wilayah ini mencapai 2,3 triliun dolar AS pada 2020, didorong oleh 100 juta pengguna telepon pintar yang bergabung dengan konsumen kelas menengah atau pindah ke segmen konsumen yang lebih 6, para peritel yang mengaktifkan temuan eCommerce secara relevan, konsisten, dan mulus akan paling diuntungkan dan bisnisnya dapat bertahan lebih lama daripada para pesaing.

Memasang iklan di situs dan aplikasi mobile, apabila dilakukan dengan benar, akan membantu para konsumen untuk menemukan produk baru dan menciptakan penjualan. Setiap slot iklan merupakan kesempatan bagi peritel untuk memperkenalkan item yang tersembunyi di katalog yang telah dipersonalisasi kepada para konsumen. Pertanyaan selanjutnya adalah: Apakah Anda salah satu peritel yang mengikuti perkembangan dan mulai memaksimalkan kesempatan ini?

Artikel ini ditulis oleh Yvonne Chang, Managing Director untuk Criteo di Asia Tenggara, sebuah perusahaan teknologi global terkemuka yang memiliki spesialisasi di periklanan digital. Untuk informasi lebih lanjut tentang Criteo, silakan hubungi [email protected]
Previous
Next Post »